Sunday, August 14, 2016

Buku Tebal dan "Mihil", Tapi Laku

Ada buku tebal dengan materi yang cukup berat, dan harga cukup lumayan, namun laris di tengah masyarakat yang tingkat minat baca rendah seperti di Indonesia. Dari sudut pandang pemasaran penerbit buku, bisa jadi itu sebuah anomali yang tak mudah dijelaskan. Bisa karena daya tarik materi buku, "kebetulan" materinya berkaitan dengan isu yang sedang hangat, atau semata-mata karena daya tarik pengarangnya. Atau sebab-sebab lain.

Saya ingin bercerita tentang tiga buku yang saya terjemahkan dari pengarang yang sama, Simon Sebab Montefiore. Yang pertama, novel sejarah Sashenka dengan setting situasi politik masa pergerakan Revolusi Bolshevik. Yang kedua Stalin: Kisah-kisah yang Tak Terungkap, kisah hidup salah satu pemimpin pemerintahan paling kejam di abad ke-20. Yang ketiga, Jerusalem Biography, riwayat 3.000 tahun kota suci tiga agama sejak Nabi Dawud (Raja David).



Ketiganya tergolong tebal, masing-masing 650 halaman, 920 halaman dan 912 halaman. Harga novelnya dibandrol Rp. 99 ribu sedangkan kedua buku lainnya masing-masing Rp. 169 ribu. Namun, di pasaran ternyata langkah novel tak seringan harganya, jauh tertinggal oleh Stalin dan Jerusalem. Yang disebut terakhir malah dalam satu bulan cetakan pertamanya di tahun 2012 buku itu ludes dan tahun ini cetak ulang yang ke-11. Stalin tak segesit Jerusalem, tapi sejak terbit perdana tahun 2011, saat ini masih bisa mejeng di toko buku. Artinya, pembelinya masih terus datang.

Anomali? Bisa saja. Tapi gejala ini bisa dilihat (sebagian) sebagai pertanda adanya ketimpangan dalam masyarakat. Di satu sisi, ada kalangan pecinta buku yang jumlahnya minimalis tapi tak mempan kendala harga. Di sisi lain, mayoritas warga negeri berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini tak terpikat buku, mau novel, buku ringan-tipis, berat-tebal, murah, mahal,....sama saja. Tidak menarik.

Tantangan bagi penerbit buku sepertinya semakin berat di tengah deras dan berlimpahnya arus budaya media sosial dalam abad teknologi digital-mobile. Porsi jumbo mayoritas masyarakat yang tadinya tidak cinta buku akan semakin asyik dengan penyebaran informasi instan dan cepat tanpa bikin otak berkeringat. Baca judul tanpa mengunyah isi berita. Getok tularkan provokasi, pikirkan akibat belakangan.

Bagi saya pribadi, sebagai pekerja perbukuan, membaca buku tebal-tebal seperti karya Montefiore bukannya tidak berat. Tapi, seumpama "rejeki anak sholeh", diluar bagian pokok berupa honor menerjemahkan, insentif yang tak ter-rupiahkan adalah belajar dan memperkaya citarasa bahasa, serta mengangsu ilmu. Montefiore, seorang akademisi Inggris berdarah Yahudi, sejarawan-peneliti yang cermat-energetik, sekaligus pendongeng ulung, adalah sumur ilmu. Menurut saya. Ga tahu kalau mas anang.

Thursday, July 28, 2016

Spesies Baru Bisnis Dunia: Monster-monster Mungil Pelumat Raksasa



DATA BUKU



Judul                     : How to Build a Billion Dollar App: Temukan Rayasia dari para Pengusaha Aplikasi Paling Sukses di Dunia
Penulis                 : George Berkowski
Penerjemah       : Yanto Musthofa
Penerbit              : Gemilang
Cetakan               : I Juli 2016
Tebal                     : 582 halaman
ISBN: 978-602-71503-7-9
Harga                    : Rp. 99.000,-




Dalam dua hari terakhir ini, di linimasa akun facebook saya berseliweran berita tentang tragedi memilukan Yahoo!, yang terjual dengan harga merana 65 triliun rupiah saja. Tega banget, ya Verizon, sang pembeli.

Mau bagaimana lagi? Valuasi raksasa itu memang sudah remuk. Padahal, tahun 2000 Yahoo masih berharga 1300 triliun. Enam tahun lalu, Microsoft masih menawar 650 triliun, tapi tawaran itu dilepehin. Ternyata sekarang harganya sepersepuluh tawaran Microsoft.

Banyak orang membingkai tragedi Yahoo dengan istilah kekinian "innovator dilemma". Ringkasnya, perusahaan-perusahaan raksasa limbung dan tumbang tanpa daya akibat keangkuhan, tanpa mau melihat perubahan-perubahan yang terjadi di luar sana. Itu pula yang terjadi pada Nokia dan Sony.

Tapi, setelah membaca buku baru karya George Berkowski ini, saya lebih suka menyebut tragedi Yahoo adalah bukti dahsyatnya sebuah gelombang besar di bawah permukaan dunia bisnis. Gelombang itu kini bergerak cepat, mengikuti gerak cepat perubahan teknologi informasi.

Dan, energi penggerak gelombang itu bukan lagi raksasa-raksasa gurita dengan gerakan yang lamban. Yang menggerakkan adalah monster-monster mungil yang lincah. Gerakannya lebih cepat dari bayangannya. Tiba-tiba orang-orang terpana ketika lilitan kabel strum monster itu menyengat dan mengguncang papan skor daftar jawara bisnis dunia.


Monster itu bisa lahir kapan saja dan di mana saja. Bisa di jantung inovasi IT dunia Silicon Valley, bisa di Finlandia, bisa di Inggris. Tapi, begitu cangkang telurnya pecah, daya strum monster bisa menjangkau dengan cepat melintasi samudera dan batas-batas negara di berbagai penjuru dunia.

Semakin akrab dengan kehidupan manusia, semakin digdayalah monster-monster itu. Ya, startup IT adalah spesies baru bisnis yang menciptakan gelombang baru. Tiba-tiba nama-nama besar yang sepuluh atau bahkan lima tahun lalu belum dibuat kini hadir setiap detik di gerbong kereta api, di ruang tunggu bandara, di kantor-kantor, di tempat tidur, di kamar mandi... di manapun.

Nama-nama itu begitu dekat, mengiringi detik demi detik kehidupan. Instagram, Snapchat, Angrybirds, Candy Crush, Uber, Twitter, Whatsapp... monster-monster itu berlomba-lomba menjadi pelayan terbaik dalam kehidupan manusia; berlomba-lomba memberi layanan eksklusif tiada duanya.

Jika Anda sekarang akan atau sedang membangun startup IT, mungkin Andalah jenis orang yang paling cocok dengan materi buku Berkowski ini. Sebab, meskipun dia wanti-wanti bahwa berbisnis harus sabar, Berkowski sendiri sangat sabar menjelaskan jengkal demi jengkal rute menuju bisnis app bernilai miliaran dolar.

Tapi, saya sebagai penyuka isu-isu pendidikan membaca dengan cemas setiap inci sajian Berkowski ini. Cemas, karena apa yang dia gambarkan sesungguhnya adalah gelombang perubahan cepat nan dahsyat.

Begitu cepatnya, sehingga saya tidak bisa membayangkan bagaimana sekolah-sekolah Indonesia mampu lebih baik dari sekadar melihat kelebat bayangan geraknya. Konon, sekolah didesain bahkan sejak jenjang paling bawah (usia dini) agar sesuai dengan "TUNTUTAN ZAMAN".

Tapi, sampai saat ini, sampai detik ini, aparatur pemerintah dari pusat sampai pelosok masih sibuk dengan penyeragaman kurikulum, tergopoh-gopoh menyiapkan buku ajar, terpesona dengan ujian nasional berkomputer, pura-pura linglung tentang gaji guru honorer, dan tentu saja berseri-seri menghitung proyek bisnis yang menyertai setiap kebijakan.



Jangan-jangan sekolah-sekolah formal Indonesia terkena sindrom "innovator dilemma". Ah, inovator dari Hongkong????!!!!