DATA BUKU
Judul : How to Build a Billion Dollar
App: Temukan Rayasia dari para Pengusaha Aplikasi Paling Sukses di Dunia
Penulis : George Berkowski
Penerjemah : Yanto
Musthofa
Penerbit :
Gemilang
Cetakan :
I Juli 2016
Tebal :
582 halaman
ISBN: 978-602-71503-7-9
Harga :
Rp. 99.000,-
Dalam dua hari terakhir ini, di linimasa akun facebook saya berseliweran berita tentang tragedi memilukan Yahoo!, yang terjual dengan harga merana 65 triliun rupiah saja. Tega banget, ya Verizon, sang pembeli.
Mau bagaimana lagi? Valuasi raksasa itu memang sudah remuk. Padahal, tahun 2000 Yahoo masih berharga 1300 triliun. Enam tahun lalu, Microsoft masih menawar 650 triliun, tapi tawaran itu dilepehin. Ternyata sekarang harganya sepersepuluh tawaran Microsoft.
Banyak orang membingkai tragedi Yahoo dengan istilah kekinian "innovator dilemma". Ringkasnya, perusahaan-perusahaan raksasa limbung dan tumbang tanpa daya akibat keangkuhan, tanpa mau melihat perubahan-perubahan yang terjadi di luar sana. Itu pula yang terjadi pada Nokia dan Sony.
Tapi, setelah membaca buku baru karya George Berkowski ini, saya lebih suka menyebut tragedi Yahoo adalah bukti dahsyatnya sebuah gelombang besar di bawah permukaan dunia bisnis. Gelombang itu kini bergerak cepat, mengikuti gerak cepat perubahan teknologi informasi.
Dan, energi penggerak gelombang itu bukan lagi raksasa-raksasa gurita dengan gerakan yang lamban. Yang menggerakkan adalah monster-monster mungil yang lincah. Gerakannya lebih cepat dari bayangannya. Tiba-tiba orang-orang terpana ketika lilitan kabel strum monster itu menyengat dan mengguncang papan skor daftar jawara bisnis dunia.
Monster itu bisa lahir kapan saja dan di mana saja. Bisa di jantung inovasi IT dunia Silicon Valley, bisa di Finlandia, bisa di Inggris. Tapi, begitu cangkang telurnya pecah, daya strum monster bisa menjangkau dengan cepat melintasi samudera dan batas-batas negara di berbagai penjuru dunia.
Semakin akrab dengan kehidupan manusia, semakin digdayalah monster-monster itu. Ya, startup IT adalah spesies baru bisnis yang menciptakan gelombang baru. Tiba-tiba nama-nama besar yang sepuluh atau bahkan lima tahun lalu belum dibuat kini hadir setiap detik di gerbong kereta api, di ruang tunggu bandara, di kantor-kantor, di tempat tidur, di kamar mandi... di manapun.
Nama-nama itu begitu dekat, mengiringi detik demi detik kehidupan. Instagram, Snapchat, Angrybirds, Candy Crush, Uber, Twitter, Whatsapp... monster-monster itu berlomba-lomba menjadi pelayan terbaik dalam kehidupan manusia; berlomba-lomba memberi layanan eksklusif tiada duanya.
Jika Anda sekarang akan atau sedang membangun startup IT, mungkin Andalah jenis orang yang paling cocok dengan materi buku Berkowski ini. Sebab, meskipun dia wanti-wanti bahwa berbisnis harus sabar, Berkowski sendiri sangat sabar menjelaskan jengkal demi jengkal rute menuju bisnis app bernilai miliaran dolar.
Tapi, saya sebagai penyuka isu-isu pendidikan membaca dengan cemas setiap inci sajian Berkowski ini. Cemas, karena apa yang dia gambarkan sesungguhnya adalah gelombang perubahan cepat nan dahsyat.
Begitu cepatnya, sehingga saya tidak bisa membayangkan bagaimana sekolah-sekolah Indonesia mampu lebih baik dari sekadar melihat kelebat bayangan geraknya. Konon, sekolah didesain bahkan sejak jenjang paling bawah (usia dini) agar sesuai dengan "TUNTUTAN ZAMAN".
Tapi, sampai saat ini, sampai detik ini, aparatur pemerintah dari pusat sampai pelosok masih sibuk dengan penyeragaman kurikulum, tergopoh-gopoh menyiapkan buku ajar, terpesona dengan ujian nasional berkomputer, pura-pura linglung tentang gaji guru honorer, dan tentu saja berseri-seri menghitung proyek bisnis yang menyertai setiap kebijakan.
Jangan-jangan sekolah-sekolah formal Indonesia terkena sindrom "innovator dilemma". Ah, inovator dari Hongkong????!!!!

No comments:
Post a Comment