Ada buku tebal dengan materi yang cukup berat, dan harga cukup lumayan, namun laris di tengah masyarakat yang tingkat minat baca rendah seperti di Indonesia. Dari sudut pandang pemasaran penerbit buku, bisa jadi itu sebuah anomali yang tak mudah dijelaskan. Bisa karena daya tarik materi buku, "kebetulan" materinya berkaitan dengan isu yang sedang hangat, atau semata-mata karena daya tarik pengarangnya. Atau sebab-sebab lain.
Saya ingin bercerita tentang tiga buku yang saya terjemahkan dari pengarang yang sama, Simon Sebab Montefiore. Yang pertama, novel sejarah Sashenka dengan setting situasi politik masa pergerakan Revolusi Bolshevik. Yang kedua Stalin: Kisah-kisah yang Tak Terungkap, kisah hidup salah satu pemimpin pemerintahan paling kejam di abad ke-20. Yang ketiga, Jerusalem Biography, riwayat 3.000 tahun kota suci tiga agama sejak Nabi Dawud (Raja David).
Ketiganya tergolong tebal, masing-masing 650 halaman, 920 halaman dan 912 halaman. Harga novelnya dibandrol Rp. 99 ribu sedangkan kedua buku lainnya masing-masing Rp. 169 ribu. Namun, di pasaran ternyata langkah novel tak seringan harganya, jauh tertinggal oleh Stalin dan Jerusalem. Yang disebut terakhir malah dalam satu bulan cetakan pertamanya di tahun 2012 buku itu ludes dan tahun ini cetak ulang yang ke-11. Stalin tak segesit Jerusalem, tapi sejak terbit perdana tahun 2011, saat ini masih bisa mejeng di toko buku. Artinya, pembelinya masih terus datang.
Anomali? Bisa saja. Tapi gejala ini bisa dilihat (sebagian) sebagai pertanda adanya ketimpangan dalam masyarakat. Di satu sisi, ada kalangan pecinta buku yang jumlahnya minimalis tapi tak mempan kendala harga. Di sisi lain, mayoritas warga negeri berpenduduk lebih dari 250 juta jiwa ini tak terpikat buku, mau novel, buku ringan-tipis, berat-tebal, murah, mahal,....sama saja. Tidak menarik.
Tantangan bagi penerbit buku sepertinya semakin berat di tengah deras dan berlimpahnya arus budaya media sosial dalam abad teknologi digital-mobile. Porsi jumbo mayoritas masyarakat yang tadinya tidak cinta buku akan semakin asyik dengan penyebaran informasi instan dan cepat tanpa bikin otak berkeringat. Baca judul tanpa mengunyah isi berita. Getok tularkan provokasi, pikirkan akibat belakangan.
Bagi saya pribadi, sebagai pekerja perbukuan, membaca buku tebal-tebal seperti karya Montefiore bukannya tidak berat. Tapi, seumpama "rejeki anak sholeh", diluar bagian pokok berupa honor menerjemahkan, insentif yang tak ter-rupiahkan adalah belajar dan memperkaya citarasa bahasa, serta mengangsu ilmu. Montefiore, seorang akademisi Inggris berdarah Yahudi, sejarawan-peneliti yang cermat-energetik, sekaligus pendongeng ulung, adalah sumur ilmu. Menurut saya. Ga tahu kalau mas anang.



Poker Tournaments & Casino - JT Hub
ReplyDeleteThere's also poker tournament hosted every week. Players from 이천 출장샵 the United States and Canada 영천 출장안마 will 수원 출장샵 enjoy an 속초 출장샵 unforgettable experience playing Jun 4, 2021 · Uploaded 전주 출장안마 by JTG